di KaratonSurakarta
Pusaka menurut konsep Karaton Surakarta berbeda dengan konsep di luar
Karaton. Menurut Karaton Pusaka berarti peninggalan para leluhur Ratu Jawi Karaton Surakarta yang
diturunkan dari Ratu ke Ratu yang memerintah Karaton atau Ingkang Jumeneng Nata. Sedangkan
pusaka menurut konsep di luar karaton pusaka diartikan sebagai senjata. Konsep pusaka tersebut
termasuk wangkingan (keris), tombak, pedang, wayang, tarian, kereta dan sebagainya. Pusaka yang
dianggap peninggalan tersebut memiliki makna historis, memiliki makna magis, sehingga memiliki
pengaruh atau prabawa. Pusaka yang memiliki prabawa tinggi dianggap sebagai pepundhen untuk
dihormati.
Sebagai bentuk penghormatan pada pusaka Karaton ,aka dapat ditemukan
dalam tatacara sebagai berikut :
Pusaka diberi sebutan Kyai, misalnya Kangjeng Kyai Singkir, Kangjeng Kyai Slamet, Kangjeng
Kyai Tulak Riwis, Kangjeng Kyai Baro, Kangjeng Kyai Pulageni, Kangjeng Kyai Sanamaya dan sebagainya.
Pada waktu-waktu tertentu pusaka dicaosi dhahar ‘diberi makan’ yang berupa kemenyan dan
bunga.
Pusaka diberi sajen pepak ageng atau sajen pepak alit.
Dalam tatacara tertentu yang menggunakan pidato pembicara sering mengucapkan :
Hawit
saking berkah pusaka-pusaka dalem .................
Karena
berkah pusaka-pusaka raja ........................’ Sehubungan dengan sikap yang menghargai kepada pusaka Karaton (termasuk
senjata) seperti tercermin dalam tembang Dhandhanggula berikut ini : Ugemana pepelinge Gusti, Yen budaya iku ora beda, Lan pusaka Kedhatone Manawa dipun rengkuh, Dipunpepundhi hambarkahi, Lamun siniya-siya, Tuwuh haladipun, Marma pra setyeng budaya Pepetrinen uwohing pangolahing budi, Hing salami-laminya. Peganglah peringatan Tuhan, kalau budaya itu tidak berbeda dengan pusaka Karatonnya apabila diakui dihormati memberi berkah apabila disia-siakan imbul pengaruh jelaknya Oleh karena itu, para pecinta budaya Jagalah hasil pengolahan budi, Selama-lamanya’. Pernyataan dalam tembang tersebut mengisyaratkan adanya kewajiban bagi
kerabat Karaton untuk menghormati pusaka Karaton. Dengan adanya Kirab Pusaka pada tatacara Murwa
warsa juga merupakan bukti adanya bentuk penghormatan kepada pusaka Karaton.
Dua
arti dalam istilah empu, pertama dapat berarti sebutan kehormatan misalnya Empu Sedah atau Empu
Panuluh. Arti yang kedua adalah ‘Ahli’ dalam pembuatan ‘Keris’.
Dalam
kesempatan ini, Empu yang kami bicarakan adalah seseorang yang ahli dalam pembuatan keris. Dengan
tercatatatnya berbagai nama ‘keris’ pastilah ada yang membuat.
Pertama-tama
yang harus kita ketahui adalah tahapan zaman terlahirnya ‘keris’ itu, kemudian meneliti bahan
keris, dan ciri khas sistem pembuatan keris. Ilmu
untuk kepentingan itu dinamakan ‘Tangguh’.
Dengan
ilmu tangguh itu, kita dapat mengenali nama-nama para Empu dan hasil karyanya yang berupa
bilahan-bilahan keris, pedang, tombak, dan lain-lainnya.
Adapun
pembagian tahapan-tahapan zaman itu adalah sebagai berikut:
1.
Kuno
(Budho)
tahun 125 M – 1125 M
meliputi
kerajaan-kerajaan: Purwacarita, Medang Siwanda, medang Kamulan, Tulisan, Gilingwesi, Mamenang,
Penggiling Wiraradya, Kahuripan dan Kediri.
2.
Madyo Kuno
(Kuno
Pertengahan) tahun 1126 M – 1250 M.
Meliputi
kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Pajajaran dan Cirebon.
3.
Sepuh Tengah
(Tua
Pertengahan) tahun 1251 M – 1459 M
Meliputi
Kerajaan-kerajaan : Jenggala, Kediri, Tuban, Madura, Majapahit dan Blambangan.
4.
Tengahan
(Pertengahan)
tahun 1460 M – 1613 M
Meliputi
Kerajaan-kerajaan : Demak, Pajang, Madiun, dan Mataram
5.
Nom
(Muda)
tahun 1614 M. Sampai sekarang
Meliputi
Kerajaan-kerajaan : Kartasura dan Surakarta.
Telah
kami ketengahkan tahapan-tahapan zaman Kerajaan yang mempunyai hubungan langsung dengan tahapan
zaman Perkerisan, dengan demikian pada setiap zaman kerajaan itu terdapat beberapa orang Eyang yang
bertugas untuk menciptakan keris.
Keris-keris
ciptaan Empu itu setiap zaman mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Sehingga
para Pendata benda pusaka itu tidak kebingungan.
Ciri
khas terletak pada segi garap dan kwalitas besinya. Kwalitas besi merupakan ciri khas yang paling
menonjol, sesuai dengan tingkat sistem pengolahan besi pada zaman itu, juga penggunaan bahan
‘Pamor’ yang mempunyai tahapan-tahapan pula. Bahan pamor yang mula-mula dipergunakan batu
‘meteor atau batu bintang’ yang dihancurkan dengan menumbuknya hingga seperti tepung kemudian
kita mengenali titanium semacam besi warnanya keputihan seperti perak, besi titanium dipergunakan
pula sebagai bahan pamor.
Titanium
mempunyai sifat keras dan tidak dapat berkarat, sehingga baik sekali untuk bahan pamor. Sesuai
dengan asalnya di Prambanan maka pamor tersebut dinamakan pamor Prambanan.
Keris
dengan pamor Prambanan dapat dipastikan bahwa keris tersebut termasuk bertangguh Nom. Karena
diketemukannya bahan pamor Prambanan itu pada jaman Kerajaan Mataram Kartasura (1680-1744). Bila
kita telah mengetahui tangguhnya suatu keris maka kita lanjutkan dengan menelusuri Empu-Empu
penciptanya.
I.
Zaman Tangguh Budho (Kuno) :
1.
Zaman Kerajaan Purwacarita, Empunya adalah: Mpu Hyang Ramadi, Mpu Iskadi, Mpu Sugati, Mpu
Mayang, dan Mpu Sarpadewa.
2.
Zaman Kerajaan Tulis, Empunya adalah: Mpu Sukmahadi.
3.
Zaman Kerajaan Medang Kamulan, Empunya adalah: Mpu Bramakedali.
4.
Zaman Kerajaan Giling Wesi, Empunya adalah: MpuSaptagati dan Mpu Janggita.
5.
Zaman Kerajaan Wirotho, Empunya adalah Mpu Dewayasa I.
6.
Zaman Kerajaan Mamenang, Empunya adalah: Mpu Ramayadi.
7.
Zaman Kerajaan Pengging Wiraradya, Empunya adalah Mpu Gandawisesa, Mpu wareng dan Mpu
Gandawijaya.
8.
Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah: Mpu Widusarpa dan Mpu Windudibya.
II.
Tangguh Madya Kuno (Kuno Pertengahan)
1.
Zaman Kerajaan Pajajaran Makukuhan, Empunya adalah: Mpu Srikanekaputra, Mpu Welang, Mpu
Cindeamoh, Mpu Handayasangkala, Mpu Dewayani, Mpu Anjani, Mpu Marcu kunda, Mpu Gobang, Mpu Kuwung,
Mpu Bayuaji, Mpu Damar jati, Mpuni Sumbro, dan Mpu Anjani.
III.
Tangguh Sepuh Tengahan (Tua Pertengahan)
1.
Zaman Kerajaan Jenggala, Empunya adalah Mpu Sutapasana.
2.
Zaman Kerajaan Kediri, Empunya adalah :
3.
Zaman Kerajaan Majapahit, Empunya adalah:
4.
Zaman Tuban/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Kuwung, Mpu Salahito, Mpu Patuguluh, Mpu
Demangan, Mpu Dewarasajati, dan Mpu Bekeljati.
5.
Zaman Madura/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Sriloka, Mpu Kaloka, Mpu Kisa, Mpu Akasa,
Mpu Lunglungan dan Mpu Kebolungan.
6.
Zaman Blambangan/Kerajaan Majapahit, Empunya adalah: Mpu Bromokendali, Mpu Luwuk, Mpu Kekep,
dam Mpu Pitrang.
IV.
Tangguh Tengahan (Pertengahan)
1.
Zaman Kerajaan Demak, Empunya adalah: Mpu Joko Supo.
2.
Zaman Kerajaan Pajang, Empunya adalah Mpu Omyang, Mpu Loo Bang, Mpu Loo Ning, Mpu Cantoka,
dan Japan.
3.
Zaman Kerajaan Mataram, Empunya adalah: Mpu Tundung, Mpu Setrobanyu, Mpu Loo Ning, Mpu
Tunggulmaya, Mpu Teposono, Mpu Kithing, Mpu Warih Anom dan Mpu Madrim.
V.
Tangguh Nom (Muda)
1.
Zaman Kerajaan Kartasura, Empunya adalah: Mpu Luyung I, Mpu Kasub, Mpu Luyung II, Mpu
Hastronoyo, Mpu Sendang Warih, Mpu Truwongso, Mpu Luluguno, Mpu Brojoguno I, dan Mpu Brojoguno II.
2.
Zaman Kerajaan/Kasunanan Surakarta, Empunya : Mpu Brojosentiko, Mpu Mangunmalelo, Mpu R.Ng.
Karyosukadgo, Mpu Brojokaryo, Mpu Brojoguno III, Mpu Tirtodongso, Mpu Sutowongso, Mpu Japan I, Mpu
Japan II, Mpu Singosijoyo, Mpu Jopomontro, Mpu Joyosukadgo, Mpu Montrowijoyo, Mpu Karyosukadgo I,
Mpu Wirosukadgo, Mpu Karyosukadgo II, dan Mpu Karyosukadgo III.
Demikian
sekilas uraian tentang Mpu-Mpu dan zaman ke zaman. Keberadaannya sudah tentu menyemarakkan dunia
perkerisan selalu sarat dengan karya-karya baru yang terus berkembang dari zaman ke zaman.
Dari
keris-keris lurus hingga keris-keris yang ber luk. Ditambah
dengan beraneka macam ragam hias pada bilahannya. Semua menuju ke arah maju, tetapi tidak
meninggalkan pakem (standar(.
Ragam
hias itu berupa kepala hewan yang diletakkan pada gadik misalnya kepala naga, anjing, singabarong,
garuda, bahkan puthut. Dengan ditambahkannya bentuk-bentuk itu, sekaligus nama keris itupun berubah,
naga siluman, naga kembar, naga sosro, naga temanten, manglar monga, naga tampar, singa barong, nogo
kikik, puthut dan lain-lainnya.
Bahkan
zaman Kasultanan Mataram sejak masa Pemerintahan Sultan Panembahan Senopati, dunia Perkerisan tampak
makmur lagi, lesan mewah tampak pada bilahan keris yang diserasah emas.
Sultan
yang arif dan bijaksana itu membagi-bagikan keris sebagai tanda jasa kepada mereka yang berjasa
kepada pribadi Sultan maupun kepada Negara dan Bangsa. Tentu
saja ragam hiasannya satu dengan lain berbeda walaupun demikian tidak meninggalkan motif aslinya.
Hiasan
yan gterasah emas itu terletak pada gonjo atau wadhidhang dengan bentuk bunga anggrek atau lung-lungan
dari emas. Atau sebantang lidi yang ditempelkan pada gonjo atau dibawah gonjo terdapat Gajah dan
Singa terbuat dari emas juga. Tentu
saja penciptanya adalah para pakar perkerisan ialah Empu