Serat-Cemporet
karya: PakuBuwono.IX
![]() |
Dandang gulo
1.
Songsoggora ( payung agung ) sebagai lambang keselamatan, bagaikan winidyan ( dikaruniai
pengetahuan ) yang sesuai benar dengan apa yang diidam-idamkan, namun tetap ringa-ringa ( ragu-ragu
) sewaktu menggubah, karena tidak darbe ( memiliki ) kemampuan yang tinggi, sehingga terlebih dahulu
harus angruruhi ( mencari ) kerisauan batin, dan jaga ( menjaga ) angkara murka, seraya mohon
luwaring ( semoga terbebas dari ) kesedihan, agar jangan kongsi ( sampai ) bingung dalam menyusun
jalannya cerita ini, dan demikianlah cerita ini ginupita ( digubah )
2. Sesungguhnya buku cerita ini disusun atas kehendak Sri Baginda IX, yang bertahta di kerajaan
besar Surakarta. Sri Baginda termasyhur di dunia karena kesaktiannya dan sebagai perujudan utama
akan sifat-sifat utama, suci, berhati sabar, sentosa, pemurah serta tulus cintanya kepada rakyat,
sehingga besar maupun kecil mereka semua mendoakan kesejahteraan kerajaan Sri Baginda.
3. Sebagai awal dari cerita ini akan diungkapkan sebuah kiasan yang indah yang dapat dijadikan
teladan dalam melakukan segala hal, asal saja dicari yang rahayu untuk memperingatkan kekhilafan
budi, agar segala sesuatu dapat berlangsung dengan mudah, Yang diungkapkansebagi suri teladan adalah
cerita lama, bagian akhir dari Pustaka Rajaweda yakni tentang negara Purwacarita.
4. Negeri itu sangat sejahtera berkat wibawa raja, yang bergelar Sri Mahapunggung, yang kukuh
berpegang pada darma dan peraturan serta ahli di bidang ilmu pengetahuan. Semula raja Suwelecala
yang menjadi awal cerita, mempunyai enam orang anak laki-laki yang berimbang kesaktiaannya.
5. Yang sulung bernama Raden Jaka Panuhun, ia tertarik pada bidang pertanian. Oleh karena itu ia
naik tahta dan memerintah segenap masyarakat tani di daerah Pagelan dan sekitanrnya, disanalah ia
membangun sebuah kota sebagai pusat pemerintahan daerah Pagelen dan Kutaarja serta bergelar Sri
Manuhun.
6. Anak yang kedua bernama Raden Jaka Sandanggarba, tertarik pada dunia perdagangan. Oleh karena
itu layaklah kalau ia sangat tekun berusaha mengumpulkan modal, sehingga akhirnya menjadi raja
saudagar, berpusat di Jepara dan bergelar Sri Sadana.
7.
Anak yang ketiga bernama Raden Jaka Karungkala, kegemarannya menjelajahi hutan belantara
berburu kijang, rusa, banteng, lembu dan memikat burung. Waktu tua menjadi raja di Kirata memimpin
para pemburu, para penangkap binatang, para pemelihara ternak dan semua pedagang daging.
8. Dulu kotanya di Prambanan dan bergelar Sri Kala, juga terkenal dengan sebutan Kirataraja.
Adiknya yakni Jaka Tunggumetung, kegemarannya mengarungi lautan mencari ikan atau menyadap enau di
waktu siang, seraya membuat garam di waktu malam.
9.
Oleh karena itulah dahulu ia merajai segenap nelayan, mengumpulkan dan memimpin para penyadap
serta menguasai para pembuat garam. Dulu pusatnya di Pagebangan dan bergelar Sri Malaras, anak yang
sumendi, yakni kakak si bungsu yang bernama Raden Jaka Petungtantara, karena gemar beroleh puji dan
samadi serta mempelajari ilmu kependetaan dan kepujanggaan istana.
10.
Jadilah ia raja para maharesi, segenap pendeta dan ajar, itulah yang ia kuasai, seraya
menghimpun para penghulu serta brahmana dan mengatur kehidupan beragam di Medangkawit. Oleh karena
itu ia bergelar Raja Resi Sri Madewa. Pertapaannya berpusat di Pamagetan, yang terletak di lereng
Gunung Lawu, dibangun sebagai sebuah kerajaan yang sejahtera.
11.
Adapun yang muda, lahir dari permaisuri bernama Jaka Kanduyu, kegemarannya berorganisasi,
menghimpun dan mempersatukan rakyat kecil, sehingga setiap kali ada permusyawaratan selalu seia
sekata dengan segenap sanak keluarga. Ia memang mahir membangkitkan semangat dan memikat hati,
sehingga mempeperoleh kewibawaan.
12.
Ketika ia berkelana memperluasa daerah kekuasaan dengan membawa pasukan, terjadilah
peperangan dan ia menang perang mengalahkan Sri Daneswara beserta patihnya yang muksa bersama-sama.
Setelah keduanya kalah, tak ada yang tampil lagi seluruh punggawa dari kerajaan itu sepakat untuk
menyerah. Tak lama kemudian Raden Jaka Kanduyu menjadi raja di Purwacarita.
13.
Berkat pahala Hyang Hutipati, ia dianugerahi kebijaksanaan yang sempurna. Kemudian berganti
nama menjadi Sri Mahapunggung, meneruskan gelar raja yang dikalahkannya dalam peperangan, sekaligus
untuk merahasiakan kesaktiannya. Upacara penobatannya dihadiri oleh para brahmana, resi, dan
raja-raja dari mancanegara.
14.
Peristiwa itu terjadi pada masa Srawana, tahun Sadamuka yakni tahun Surya : 1031 atau menurut
hitungan tahun Candra : 1061, yakni kurang lebih satu tahun setelah mengangkat saudara-saudaranya
memerintah di kerajaan masing-masing, lengkap dengan daerah kekuasaannya.
15.
Demikianlah telah berlangsung beberapa waktu lamanya tanpa ada sesuatu halangan, kini
tersebutlah di Pegelen Sri Baginda Sri Manuhun, yang sedang merasa masygul. Sebab musabab
kesedihannya ialah, berputra du orang, dua-duanya cacat. Seorang cebol dan yang seorang wujil, yang
cebol diberi nama Raden Jaka Pratana.
16.
Yang wujil diberi nama Raka Jaka Sangara, hal ini membuat ayahnya sangat malu, sehingga siang
dan malam ia tiada hentinya bersembahyang, mohon petunjuk dewa yang didambakan ialah semoga
dianugerahi anak laki-laki yang tampan, serba bisa mengatasi segala sesuatu agar supaya tidak
mencemaskan.
17.
Kini terdengarlah petunjuk dalam samadinya “ Hai Sri Baginda, mintalah pertolongan kepada
seorang buyut yang bertempat tinggal di Sendangkulon, engkau pasti akan memperoleh sarana sehingga
bisa mendapat anak laki-laki yang tampas dan pantas, segeralah engkau ikhtiar dan jangan membawa
pengiring.
18.
Sri Baginda keluar dari tempat samadinya, pergi tanpa pengiring dengan cara menyamar. Syahdan
bergantilah yang diceritakan, Kyai Buyut yang bertempat tinggal di Sendangkulon bernama Buyut
Samalangu, putra Buyut Salinga cucu seorang biku sakti yang bernama Resi Samahita.
19.
Buyut Samalangu itu beristri jin, mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Yang tua perempuan
bernama Rara Srini, adiknya bernama Jaka Sarana, tampan. Karena pengaruh tapa, kedua anaknya tidak
serupa dengan anak kelahiran desa akan tetapi seperti putra raja.
20.
Keduanya selalu menjadi hiasan berita di desa-desa dan dukuh-dukuh sekitar Sendangkulon,
Orang membayangkan perasaannya betapa bahagianya andaikata terbalas cintanya. Akan tetapi tidak
terpenuhi karena takut kepada Ki Buyut, yang bertabiat lemah lembut serta selalu berprihatin dalam
sembahnya untuk menjaga keselamatan keluarga.
21.
Tersebutlah Ki Buyut yang tengah memohon sepenuh hati, bertafakur dalam sanggarnya. Hatinya
terpusat kepada anak, semoga mendapat anugerah kemurahan dewata, terpilih oleh raja. Permohonannya
terkabul bersamaan dengan turunnya wahyu diwaktu tengah malam.
22.
Turunlah istrinya, jin yang bernama Diah ratna Sriwulan, ia datang dengan tiba-tiba dan Ki
Buyut segera bersiap di tempat yang sepi. Setelah ditanya maksud kedatangannya, istrinya lalu
memberi petunjuk dengan jelas, suaminya diminta supaya membenahi rumah karena akan ada tamu.
23.
Bukan tamu sembarang tamu dari golongan rakyat biasa, namun seorang raja yang menguasai
sebuah kerajaan yang berpust di Pagelen bergelar Sri Manuhun. Kedatangannya karena menaati petunjuk.
Ia sedang masygul karena kedua anaknya menderita cacat. Ia memperoleh petunjuk supaya menemuimu
hendak minta isyarat.
24.
Kelak pasti mempunyai putra yang tampan, petunjuk itu bener-bener dilaksanakan, ia datang
seorang dari tanpa pengiring. Karena memang sudah kehendak dewata, dan sudah takdir Rara Srini
menjadi perantara, ia dipersitri oleh raja, untuk menurunkan keturunan yang mulia, sekaligus menarik
saudara sekandung ikut merasakan kebahagiaan.
25.
Mendengar hal itu Kyai Buyut gembira di hati, lalu ia bertanya “ Wahai adinda, bagimana
caranya agar hal itu bisa terlaksana secara meyakinkan sesuai dengan kehendaknya, terbuka secara
serasi “ Ratna Sriwulan menjawab “ jangan kuarti ! sayalah yang akan mengatur dengan menggunakan
siasat.
26.
Atau sarana sebagai tabir, anda menggunakan cara terbuka pasti nanati ada tanda-tandanya yang
bercirikan tulisan. Jelaskan apa adanya, jika sudah ada buktinya, disitulah saatnya menerka-nerka
isyarat, yang cocok dengan petunjuk yang harus ditafsirkan, lalu tinggallah puji dan doa.
27.
Sesudah selesai memberi penjelasan, sang dewi lalu pamit kepada suami, dalam sekejap mata
mata ia telah lenyap, gain tertutup suasana. Tersebutlah Kyai Buyut, ketika hari menjelang pagi ia
memberi tahu anaknya supaya memperpatut tata rumah, yang disuruh mengiakan keduanya mulai
bersiap-siap.
28.
Patanenya dibersihkan semua diberi bunga yang harum, lantainya dihampiri tikar berderet-deret,
minuman diatur diatas para-para dengan sesajian lengkap dan penuh, tak ada yang mengecewakan. Ki
Buyut diberi tahu oleh anaknya, bahwa segala persiapan di dalam rumah sudah selesai, ia merasa
gembira lalu gembira.
29.
Untuk menyongsong kedatangan raja, tak lama kemudian bertemu di pagar rumah, kedua-duanya
merasa gembira. Ki Buyut Samalangu gopoh-gopoh mempersilakan dan raja, setibanya di dukuh menanggapi
dengan seneng, lalu masuk ke rumah. Sri Baginda dipersilakan duduk di petanen yang sudah diatur,
dengan senang hati ia duduk tanpa ragu-ragu.
30.
Kyai Buyut duduk menunduk di hadapannya bersama kedua orang anaknya, beberapa saat kemudian
Ki Buyut mengucapkan sambutan selamat datang “ Atas kedatangan Sri Baginda, hamba merasa sangat
beruntung bagaikan kedatangan dewata, yang menganugerahi kemuliaan tanpa bandingan melingkupi
segala-galanya.
31.
Sampai pohon-pohon dan daun-daun semuanya senyap, semuanya bertmabha indah dan semakin subur
karena terlindung oleh kewibawaan manikam kerajaan yang luhur, hamba bagaikan mimpi, apakah gerangan
yang paduka kehendaki sehingga datang menyamar seorang diri tanpa pengiring, pagi-pagi bener
tersesat dan berkenan mengunjungi pondok hamba.
32.
Tiada lain hamba mohon aksama, siap menerima kemurkaan paduka, jika sekitarnya kurang tata
krama. Karena hamba hanyalah pacal dukun, yang tak mungkin tahu akan sopan santun. “ Sri Baginda
menjawab “ Sudahlah, jangan berkata demikian. Memang sengaja saya sampai di sini, sebabnya ialah
karena taat kepada petunjuk, Sri Baginda lalu menjelaskan duduk persoalannya.
33.
Sejak awal hingga akhirnya bertemu, kemudian ujarnya meminta “ Sesungguhnya aku
mengharapkan pertolonganmu, terserah bagimana petunjukmu, aku menurut “ Mendengar penuturan Sri
Baginda, Kyai Buyut bener-bener takjub, lalu berdatang sembah, “ Duhai junjungan hamba, sungguh
tak terbayangkan keajaiban kehendak dewa itu, namun apa kemampuan hamba.
34.
Orang desa lagi hanya petani jelata, paling-paling hanya mengolah tanaman menanam biji-bijian
seadanya, seperti jepen, jali, jawawut, bijen, cantel, jatil, kedali sebagai mata pencarian untuk
selama-lamanya. Mustahil untuk menduga-duga masalah kesaktian yang benar-benar tidak mungkin
melaksanakannya, oleh karena itu hamba berserah diri.
35.
Ke bawah kaki paduka, menghaturkan hidup dan mati hanya karena merasa bertanggung jawab,
namun hati ini ternyata buntuk. Mengapa dunia jadi terbalik, junjungan minta sarana kepada rakyatnya,
tentu tidak akan terjadi, lautan mengalir ke kubangan air, demikianlah jika diumpamakan dengan air.
36.
Tidak sesuatu dengan kodrat dunia, dan keajaiban itu seribu langka. Sungguh hamba tidak dapat
memikirkan kehendak Sri Baginda yang demikian, yang terjadi sejak jaman dahulu kala bagi seorang
raja, jika ada rakyatnya yang kekurangan sandang pangan maupun kegelapan budi, rajalah yang
mengatasinya.
37.
Raja Pagelen berkata lembut, “Hai, paman. Meskipun demikian, namun aku ini menaati petunjuk
dewata, yang tidak akan ingkar meski kita mengingkarinya. Dewata selalu mengetahui segala
gerak-gerik umatnya. Aku tetap mendesak dan berusaha sampai berhasil. Meskipun hanya sekedar
kata-kata tanpa dasar yang aku peroleh, biarlah. Akan kuterima juga.
38.
Asalkan engkau yang menjadi lantaran memberi sarana, saya akan merasa puas. “Ki Buyut
berdatang sembah dengan suara lemut, “Wahai, Sri Baginda. Jika demikian kehendak paduka, hamba
tidak akan ingkar lagi, karena terdesak oleh kebutuhan dan karena ingin mengamini, hamba hendak
menunjukkan jalan menurut cara orang orang kecil berdasarkan ilmu orang dusun.
39.
Mudah-mudahan dapat memenuhi harapan, sesuai dengan petunjuk, yang gamblang dan terang.
“Sri Baginda berkata lagi, “Nah paman! Jangan ragu-ragu. Laksanakanlah segera ilmumu seadanya.
“Ki Buyut segera mempersiapkan tujuh lembar daun tal kuning ditaruh di dalam kotak kecil tertutup.
40.
Sesudah diletakkan di hadapan Sri Baginda, sekarang silahkan paduka mengambil sastra wedar
tanpa aksara. Pilihlah satu yang paduka kehendaki. “Sri Baginda heran sekali melihatnya karena
caranya yang sangat ajaib dalam melakukan usaha mendapatkan petunjuk.
41.
Beberapa saat kemudian Sri Baginda mengambil sastra wedar. Ketika diteliti tampak ada
tulisannya, kemudian dibaca, dan berbunyi: “Hai, Sri Baginda! Sudilah engkau mengambil srini
sebagai sarana, yang akan merupakan pagar kesalamatan. “Sri Baginda terdiam. Ia belum dapat
menagkap sasmita atau petunjuk yang tertulis itu. Relug kalbunya masih ruwet.
42.
Akhirnya Sri Baginda berkata, “paman Buyit. Coba jelaskan makna kalimat ini. Apa gerangan
maksudnya. Aku belum dapat menagkap artinya. “Kyai Buyut tersenyum berdatang sembah, “Hamba
mohon maaf. Seyogyanya paduka mengambil lagi. Siapa tahu, petunjuk tulisannya berlainan. “Sri
Baginda tidak menolak.
43.
Kemudian mengambil lagi selembar daun tal, lalu selembar lagi, hingga tiga kali. Semua tiada
bedanya. Aksara dan kalimatnya sama, seperti yang sudah-sudah. Hati Sri Manuhun masih tetap bingung,
akan tetapi kebingungannya tidak diperlihatkan. Sambil memikirkan pemecahannya, barang kali
menemukan jawaban, Sri Baginda berpura-pura.
44.
Mendekati Ki Buyut, lalu berkata lembut, “Paman, saya tertarik kepada kedua anak yang
menghadap itu. Tingkah lakunya terampil. Yang laki-laki maupun yang perempuan serba luwes dan sangat
pantas rupanya. Menilik ujudnya, mungkin kakak adik. Apakah itu anak-anakmu ?”
45.
Kyai Buyut menjawab dengan sebenarnya demikian “ Duhai Sri Baginda, benar ia anak hamba
kelahiran Sendangkulon sudah lama berpisah dengan ibunya sehingga selalu menjadi buah hati. Karena
hanya merekalah milik hamba, rasa-rasanya keduanya tidak dapat berpisah dengan ayahnya, oleh karena
itu siang dan malam keduanya tetap berada diasrama.
46.
Sri Baginda tersenyum seray berkata lembut “ Sudah sepantasnya orang mempunyai anak, tentu
begitu itu anggapannya, menurut kata peribahasa, umpama kereweng kencana. Dasar kedua anakmu itu
memang baik-baik, sudah sepantasnya bagaikan nyawa, sepintas lalu seperti kembar, mana yang lebih
tua dan siapa namanya..
47.
Ki Buyut menjawab “ Yang tua namanya Srini, sedangkan yang muda bernama Sarana “ Sri
Baginda berkat menanggapi, kalau begitu yang tua pantas memelihara isi istana, sedangkan yang muda
memelihara kerajaan “ Mendengar ucapan Sri Baginda, Ki Buyut menyembah, beberapa hari kemudian Sri
Baginda pulang, diiringikan oleh Ki Buyut sekeluarga.
48.
Setibanya di istana Sri Baginda memanggil pimpinan para menteri, yang merupakan orang
kepercayaan dalam pemerintahan yakni Arya Pratala dan Arya Banawa, keduanya adalah ipar Sri Baginda,
diceritakan Arya Pratala itu, adiknya yang bernama Ken Pratiwi menjadi selir Sri Baginda.
49.
Dialah yang mempunyai anak laki-laki cebol, yang diberi nama Raden Jaka Pratana, sedangkan
Arya Banawa kakak perempuan yang bernama Rara Jahnawi, yang menjadi sesepuh para selir Sri Baginda,
berputra laki-laki wujil, yang diberi nama Raden Jaka Sangara yang sudah diceritakan diatas.
50.
Pimpinan para menteri itu telah datang menghadap Sri Baginda, mereka diberi tahu tentang
segala peristiwa yang telah terjadi. Semua merasa heran, sekarang atas kehendak Sri Baginda, Rara
Srini diangkat menjadi permaisuri raja, sedangkan kedua selir menjadi istri yang diberi kekeuasaan
untuk mengatur segala pekerjaan di dalam istana.
51.
Kyai Buyut diberi kedudukan sebagai sesepuh dan sebagai pendeta istana, yang diberi kekuasaan
untuk memberikan pengajaran ke arah budi pekerti yang baik. Sarana diangkat jadi perdana menteri
yang memegang kendali pemerintahan. Kedua Arya dimasyhurkan sebagai yang memegang kekuasaan untuk
mengatur segala macam pekerjaan serta pemegang hukum kerajaan.
52.
Adik dari Ki Buyut yang bernama Umbul Samawana telah lama tiada dan meninggalkan anak
laki-laki bernama Jaka Gede, sekarang ditugasi menggantikan pakuwannya bergelar Buyut Agung
berkedudukan di Sendangkulon, diangkat oleh Sri Baginda, dengan demikian sejahteralah dukuh
Sendangkulon karena penguasanya mahir membina kewibawaan.
53.
Rara Srini tidak lama kemudian hamil, setelah cukup waktunya lahirlah anak laki-laki, tampan
dan mungil sehingga bener-bener seperti Sanghyang Asmara, menggembirakan hati Sri Baginda, putranya
disambut dan dilihat keadaannya bener-bener pantas dan tampan, diberi namak Raden Jaka Pramana.
54.
Rajaputra mendapat berkat dewata sehingga cepat menjadi besar, diberi emban bernama Ni
Wilasita, waktu berjalan tersu, putra Baginda hampir menjelang akil balig. Semakin jelaslah rupanya
akan menguasai initi insan yang terpuji, serba suci serta mahir akan kaidah-kaidah hubungan yang
tersamar, sehingga pantas menjadi seorang raja.